Potret Mirisnya Etika Pertumbuhan Era Digital dan Media Sosial

by - December 28, 2017



Hai saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air dimana pun kalian berada, Saya akhir-akhir ini ketar ketir mengenai pemberitaan media sosial yang kian lama kian memicu emosi saja. Saya lahir di tahun 90an, tumbuh dan berkembang di era milinium, dan sekarang saya berumur 21 tahun.

Saya beruntung saya hidup dan merasakan perkembangan zaman yang begitu sangat pesatnya. Saya akan membagi sedikit cerita tentang potret kehidupan saya dan juga teman-teman saya yang lahir di era 90an. Saya masuk SD pada tahun 2000 saat umur saya 5 tahun. Di masa itu, saya merasa hidup saya bahagia sekali tanpa gadget. Saya sibuk menabung untuk membeli mainan yang isinya stiker pokemon yang nantinya harus dikumpulkan sampai 1 buku penuh dan nantinya bisa ditukar dengan 1 buah nitendo atau game tangan. Saya juga punya 1 plastik penuh mainan boneka pasang, 2 binder full dengan kertas cantik gambar princess dan disney yang saya kumpulkan untuk di tukar dengan teman-teman saya di kelas. Untuk saling menjalin hubungan, saya mempunyai buku diary teman-teman yang saya putar keliling 1 kelas agar teman-teman saya dapat menulis biodatanya di buku itu (Sampai sekarang buku nya masih ada dan saya sering senyum-senyum sendiri dengan kepolasan kami semua). Pada era saya dulu, saya di paksa untuk membuka berbagai macam sumber buku untuk mencari jawaban tanggal berapakah pahlawan Patimura wafat. Saya juga harus mati-matian mencari kalkulator yang disembunyikan orang tua saya saat ingin mengerjakan PR matematika, alhasil saya harus menghitung manual menggunakan kertas corat coret banyak sekali. Dari kertas itu lah saya perlahan-lahan menggali potensi saya untuk menggambar (karena bosen hitung-hitungan dan ga di kasih kalkulator hihihi).

Dan biasanya sepulang sekolah saya buru-buru mengerjakan pr agar bisa bermain dengan teman-teman kompleks. Dan kalau hujan, saya butuh tenaga ekstra untuk membujuk orang tua saya agar saya bisa bermain hujan, sendiri pun tak jadi masalah.

Setelah saya naik ke tingkat SMP, dengan uang tabungan saya sendiri, tanpa bantuan dari orang tua saya, saya membeli hape cina murah yang saat itu mahal tentunya. Hape ini tanpa aplikasi lengkap. Jadi kebanyakan saya cuma bisa sms dan mendengarkan radio. Lalu saya naik ke kelas 2 smp dimana saya patungan dengan orang tua saya untuk membeli laptop kecil yang saya gunakan untuk tugas sekolah dan mainan pico di facebook. Disini saya mulai mengenal friendster. Ini adalah sosial media pertama saya. Nah ini loh yang membuat saya bingung, sosial media jaman dulu dan jaman now kok beda ya rasanya. Dulu itu saya berlomba-lomba menghapal kode html untuk menghias halaman facebook, dan berkiriman pesan positive di wall teman-teman saya.

Saat naik ke tingkat SMA, saya mulai mempunyai smartphone, disini lah saya mulai mengenal facebook, bbm, dan juga whatsapp. Dan saya rasa saat itulah saat pertama kali semua sosial media booming. Semua biasa-biasa aja, ga ada hoax yang bertaburan dimana-mana, tidak ada fitnah-fitnah, semua masih bisa dikatakan "TENANG"

Saya mulai merasakan kuatnya hempasan era digital dan media sosial di tahun 2013 keatas hingga sekarang. Bayangkan, jangankan anak SD, balita pun sudah akrab dengan gadget. Dan anak SD sibuk mainan musically, upload ini itu di facebook, instagram, bahkan ada yang memulai youtube channel. 
Jaman sekarang anak-anak lebih heboh beli pulsa dan paket internet dibanding dengan membeli majalah mingguan bobo (dulu saya selalu langganan, sampe penuh banget di gudang).
Jaman sekarang anak-anak lebih sibuk bermain pokemon go di gadget mereka ketimbang membaca komiknya.
Jaman sekarang kalau tidak bisa jawab soal tinggal googling, lama-lama penerbit buku bisa bangkrut.
Jaman skearang apa-apa hape, internet, kuota, facebook, dan eksis.

BAYANGKAN SAUDARA-SAUDARA...
Era digital dan Media Sosial adalah suatu portal yang sangat besar, dan dengan gampangnya dapat diakses siapa saja termasuk anak-anak dibawah umur.
Bagi saya, mengizinkan anak-anak dibawah umum bermain sosial media sama saja membiarkan anak-anak tersebut mengemudikan sebuah truk. Yaps, berbahaya dan membahayakan.

Kita saja sebagai masyarakat berbadan hukum (mempunyai KTP) masih sering salah menggunakan sosial media, misalnya dengan seenak jidat memvideoin orang yang pada akhirnya berbuntut panjang, memasang foto mesra dengan suami orang, mencaci maki agama orang lain, memprovokasi, dan berbagai jenis lainnya.

Sedih saya melihat perkembangan era digital membawa dampak buruk di Indonesia (walaupun ada juga dampak baik, cuma untuk postingan kali ini saya akan membahas sisi negatifnya). Sadar atau tidak, munculnya badai sosial media membuat tingkat kriminalitas meningkat, mulai dari pencemaran nama baik, pedophile, dan kasus tipu tipu jual beli online. Saya sedih dengan kenyataan dimana orang-orang memanfaatkan media sosial tanpa tahu aturan.
Apa memang tidak ada aturannya?
Kok bisa?
Sosial media itu luas sekali, lebih luas dari dunia nyata. Jika di dunia nyata kalian mesti memakai visa untuk kemana-mana, dengan sosial media, kalian bisa ke korea utara dalam hitungan menit.
Nah, mengapa portal yang begitu besar ini malah tidak memiliki aturan?

Jika seperti ini, apakah lebih baik jika Indonesia menjadi negara yang tertinggal budaya digital daripada menjadi bangsa yang tidak beretika karena era digital?

  

You May Also Like

0 comments